Sunday Talk: Band & Label Management

Sunday, March 24, 2013
12noon  – 2.30 pm
Brew & Co., Surabaya Town Square

Join a Sunday Talk with Satria Ramadhan (Founder of SRM Band Management) and Achmad Marin (founder of FFWD Records), sharing their experience in leading band and record label management in Indonesia. Brainstorm and formulate together some alternative steps that might be applied to the music scenes in Surabaya.

Achmad Marin Shamsoedharma is a business director, marketing manager, and co-owner of FF/WD Records with partner Helvi. The label virtually started the independent label movement in Indonesia almost ten years ago. FF/WD produces cutting edge electronic and post rock music, including the internationally popular Mocca and The S.I.G.I.T.S.

Satria Ramadhan is an image taker and football lover who runs SRM, a band management whose distinguished lineups include Ballads of The Clice, Bangkutaman, Hospital, Leonardo, L’Alphaalpha, Innocenti, Sore, The Experience Brothers, and The Trees and The Wild .

Moderated by Anitha Silvia, organiser of Indonesian Netaudio Festival and Potlach records. Organised by Creative Weekend and C2O library & collabtive.


Sunday Talk : Records Label & Band Management

Reported by Anitha Silvia

Saya grogi sejak diajukan sebagai moderator untuk Sunday Talk menggantikan Ayos yang berhalangan, meskipun kami C2O Library & Collabtive telah banyak menggelar diskusi dan kami juga yang mengatur Sunday Talk sebagai bagian dari Sunday Market Vol. 2, tetap grogi karena saya jarang sekali jadi moderator (karena kemampuan moderasi saya yang payah), apalagi akan berhadapan dengan dua orang narasumber yang saya kagumi dan segani : Satria Ramadhan–founder SRM Band Management–dan Ahmad Marin–founder FFWD Records, grogi! Tapi sekaligus sangat senang karena bisa membuat daftar pertanyaan yang menyenangkan sekali jika bisa mendapatkan jawaban yang panjang dan tidak terduga dari mereka berdua. Saya mengkoleksi rilisan FFWD dan mencintai pertunjukkan musik yang mereka buat. Saya berkenalan dengan Satria saat tur Ballads of The Cliche di Yogyakarta, menyukai karya fotografinya, dan rajin mengunjungi toko musik miliknya di Jakarta : Hey Folks. Tema diskusi yang kami pilih adalah mendasar, melihat masing masing yang digeluti oleh dua narasumber yaitu Records Label & Band Management, dan daftar pertanyaan saya menjadi panjang.

Karena terjadi pemadaman listrik oleh pihak PLN, jadwal sound-check para performer menjadi mundur, maka kami memindahkan Sunday Talk ke dalam ruangan Brew & Co, awalnya kami setting di beranda karena lebih luas dan terlihat dari luar, namun sound-check masih berlangsung dan pastinya akan bertabrakan dengan suara microphone kami saat berdiskusi. Suasana makin menghangat di dalam ruangan karena suhu udara makin panas dan kehadiran kawan-kawan yang bersemangat akan mengikuti Sunday Talk. Saya membuka diskusi dengan memberikan penjelasan garis besar dari Sunday Market dan profil dari dua narasumber : Satria dan Marin. Satria adalah pendiri SRM Band Management (http://www.srmbands.com/) yang menaungi 9 band : rumahsakit, Sore, L’alphalpha, Leonardo, Experience Brothers, Bangkutaman, Ballads of The Cliche, Innocenti, The Trees and The Wild. Marin adalah salah satu dari 3 orang founder FFWD Records–sebuah label indie kenamaan yang telah menerbitkan Mocca, Pure Saturday, Polyester Embassy, Homogenic, RNRM, The SIGIT, Teenage Death Star, Hollywood Nobody, dan yang akan segera terbit : Hightime Rebellion & The C.U.T.S. Grogi saya berubah menjadi kebahagiaan setelah diskusi dimulai.

Pertanyaan pertama adalah bagaimana Marin memulai FFWD dan Satria memulai SRM Band Management. Marin pada akhir 90an melihat kebutuhan untuk memproduksi dan menyebarkan musik indiepop yang ia sukai, bersama 2 kawannya–Helvi dan Adit–membangun sebuah records label bernama FFWD dengan rilisan awal berupa kaset dari The Cherry Orchard, IVY, Edson, Club 8, semuanya adalah grup musik indiepop dari luar Indonesia. Club 8 meraih respon besar dari radio lokal dan mereka pun akhirnya konser di Bandung. Selanjutnya Marin mencari band Bandung, dia menemukan Mocca, memproduksi albumnya dan lebih dari 10.000 kaset Mocca – My Diary terjual, dimulailah managemen yang lebih rapih terutama keuangan. Marin sangat dibantu oleh pertemanan, dia bisa mengutang biaya produksi kepada distributor, FFWD bisa terus bergerak karena jaringan pertemanan. Marin menekankan pentingnya jaringan dan berjejaring itu sekaligus adalah promosi.

FFWD juga memproduksi beragam rilisan fisik mulai dari kaset, CD, vinyl, hingga mp3. Bentuk rilisan tergantung dari tiap band, misalnya Teenage Death Star yang akan meliris albumnya dalam bentuk kaset bekas, The SIGIT yang meliris vinyl (dan memberikan download link untuk mp3). FFWD juga telah berhasil menggelar micro gigs dan konser, mulai dari Les Viola hingga Soundshine, dan yang terbaru adalah Since Tomorrow. Marin bercerita dia bisa dan terus membuat pertunjukkan musik karena dia suka berpesta, maka dia membuat pesta dengan performer yang dia sukai. Semua roster FFWD berhasil dari band kecil menjadi band besar, saya penasaran dengan proses kurasi yang dilakukan oleh Marin dalam memilih band. Ternyata Marin sangat mengandalkan pertunjukkan langsung dari suatu band saat ia menentukan band yang akan diajak bergabung dengan FFWD. Dia kagum dengan band yang bisa bermain bagus dengan alat yang seadanya, kekuatan sebuah band hanya bisa dilihat saat mereka bermain, jadi Marin rajin mendatangi gigs.

Satria memulai kecintaannya di musik pop bawah tanah sebagai fotografer Ballads of The Cliche, lalu menjadi manager band tersebut menggantikan Felix Dass. Satria juga menjadi manager dari The Dying Sirens yang hanya meliris satu album saja. Selanjutnya Satria mendapatkan tawaran untuk menjadi manager Sore yang saat itu sedang vakum karena ditinggal salah satu personelnya dan dalam tahap membuat album ke 3. Satria merasa sangat beruntung menjadi manager dari band-band yang disukainya, sejumlah kawan menyebut aktivitas Satria sebagai SRM Bands, maka SRM jadilah sebuah brand (saya salah mengira SRM adalah singkatan dari Satria Ramadhan Management) atas aktivitas yang Satria geluti. Band management menjadi salah satu infrastruktur yang penting dalam skena musik karena banyak band yang membutuhkan bantuan management untuk membuat press kit, promosi, merchandise, rekaman, dan mencari panggung. Meskipun menurut Satria jika dia membentuk band, dia akan mengurus semuanya sendiri karena akan lebih puas sesuai dengan keinginannya. Satria mengajak dua kawan untuk bergabung mengurus SRM yaitu Dimas di bagian dokumentasi dan Bayu dibagian produksi, meskipun dalam prakteknya mereka bertiga bisa sekaligus menjadi road manager, produksi, dan dokumentasi (foto dan video) jika jadwal manggung band asuhan mereka bersamaan di venue yang berbeda. Satria memposisikan dirinya dalam SRM sebagai fans, merasa beruntung bekerja dengan band-band favoritnya, sebagai fans yang baik Satria bekerja maksimal untuk band tersebut. Satria berharap band asuhan SRM minimal “dihitung” di skena musik masing masing band itu bergerak.

Awalnya untuk mempromosikan band, Satria menggelar pertunjukkan musik secara reguler bertajuk “We Are Pop” di tokonya Hey Folks yang juga menjadi kantor SRM. “We Are Pop” adalah gig kecil yang ditujukan kepada para fans yang saat itu jumlahnya tidak banyak, jadinya adalah sebuah acara yang intim. Satria memberikan tips untuk membuat profil band, dia menyarankan untuk membuat narasi mengenai band tersebut ketimbang hanya membuar daftar personel band, lalu untuk foto band tidak melulu menampilkan wajah utuh personel, bisa menggunakan kamera lomo untuk memberikan efek yang artsy. Untuk mengatur jadwal rekaman harus tahu jadwal masing-masing personel dan mengenal karakter tiap personel, itu pentingnya untuk mengadakan meeting bulanan.

SRM Band Management adalah weekend project karena Satria adalah seorang buruh di sebuah maskapai penerbangan, sebuah projek akhir pekan yang dijalankan dengan sepenuh hati. SRM menjadi band management untuk 6 band (L’Alphalpha, Leonardo, Sore, Bangkutaman, Experience Brothers, Ballads of The Cliche) dan menjadi Booking Agent untuk 3 band (rumahsakit, The Trees & The Wild, Innocenti). SRM memberikan treatment yang sama untuk semua band, mengadakan meeting bulanan dengan tiap band untuk evaluasi bulanan dan mengatur jadwal. Dokumentasi menjadi hal yang penting bagi SRM. Membuat video pertunjukkan dari tiap band asuhannya, lalu diupload di Youtube, jadi promosi tetap bisa dilakukan dan memberikan kebahagiaan bagi para fans yang tidak bisa hadir di pertunjukkan tersebut. Misalnya jumlah penonton yang sedikit di sebuah pertunjukkan bisa “ditambah” dengan viewer yang melihat video pertunjukkan tersebut di youtube, itulah pentingnya dokumentasi. Dengan masif-nya penggunaan Internet di Indonesia, media promosi online juga signifikan menjadi bargain untuk “nilai” band. Jumlah follower di Twitter, jumlah viewer di channel Youtube, jumlah like di fanpage Facebook menjadi data yang penting. Internet telah memanjakan fans, contohnya yang telah dilakukan Mocca, mereka streaming pertunjukkan langsung via G+, fans tinggal memiliki komputer dan koneksi Internet yang mumpuni untuk menonton pertunjukkan langsung tersebut.

Zaki (Praoto Zine) memperkenalkan kawan kawan Surabaya yang baru menjalankan sebuah records label yaitu Danish yang membentuk Wellstain Records yang baru saja menerbitkan ZORV, lalu Otis yang membuat band management bertajuk Otis Management yang menaungi 3 band : Deskripsi Sebuah Mahasiswa, Dopest Dope, Mooikite. Zaki kemudian bertanya, “Sejauh mana FFWD terlibat dalam proses kreatif roster-nya?”. Marin menjelaskan bahwa FFWD membebaskan roster untuk membuat karya yang mereka mau, kemudian FFWD mengerjakan produksi, distribusi, dan promosi.

Danish (Wellstain Records) mengajukan pertanyaan kepada Marin, apa yang menjadi pemasukan terbesar bagi FFWD?”. Marin memerikan bahwa industri rekaman fisik telah mengalami penurunan penjualan secara signifikan, solusinya dengan meningkatkan penjualan merchandise.

Phleg (Terbujurkaku) melontarkan pertanyaan, “Jika FFWD baru dibangun di era Internet (dimana digital file-sharing adalah signifikan) apakah akan sama hebatnya saat dibangun akhir tahun 90an yang belum mengenal Internet?”. Marin menjawab pendek, “Saya tidak tahu, coba saja, tidak perlu takut untuk mencobanya”. Satria ikut memberikan jawaban, dia mengutip pernyataan dari Efek Rumah Kaca : “Pasar dapat kita ciptakan”. Satria percaya bahwa Internet bukanlah musuh dari rilisan fisik, Internet bisa dipakai sebagai alat yang sangat berguna, dan kita bisa menciptakan pasar sendiri kapanpun apapun.

Oming (Majalah Sintetik) memberikan pertanyaan, “Apakah dengan kehadiran Netlabel (bahkan mereka telah membuat Indonesian Netlabel Union dan Indonesian Netaudio Festival) menjadi ancaman bagi aktivitas records label yang utamanya adalah memproduksi rilisan fisik?”

Marin menjawab (dengan santai) bahwa Netlabel bukanlah ancaman, dia senang dengan kehadiran variasi bentuk musik, makin banyak label (Netlabel maupun label fisik) makin banyak pilihan. Satria menambahkan bahwa Netlabel menjadi alternatif, bukan ancaman, malah bisa diajak bekerjasama untuk distribusi musik yang lebih luas lagi, karena Netlabel menjalankan distribusi yang masif dan militan via Internet. Saya sebagai aktivis Indonesian Netlabel Union melihat bahwa Netlabel bukanlah ancaman di skena musik, malah menjadi bentuk kolaborasi, terbukti dengan White Shoes and The Couples Company yang meliris single-nya via Yes No Wave Music –sebuah Netlabel yang paling populer di Indonesia–dan juga meliris fisiknya dengan Aksara Records.

Sayangnya batasan waktu Sunday Talk sudah hampir habis, padahal daftar pertanyaan saya masih cukup panjang, kawan kawan yang ikutan diskusi juga terlihat masih betah di Sunday Talk. Saya terpaksa melontarkan pertanyaan terakhir (maap saya terlalu mendominasi memberikan banyak pertanyaan), pertanyaan yang ingin saya ajukan tapi tidak saya masukkan dalam daftar pertanyaan yang saya buat karena saya sungkan untuk menanyakannya.

“Sepanjang diskusi, kalian berdua telah berbagi kebahagiaan dan semangat dalam menjalankan label dan band management, apa kesedihan kalian saat menjalankan hal yang kalian cintai tersebut?”

Marin berbagi tiga kesedihan, yang pertama adalah penolakan dari pihak radio, di akhir 90-an, media musik yang besar adalah radio. Saat Marin memberikan rilisan FFWD ke radio lokal, mereka membalasnya dengan kalimat merendahkan, “siapa kamu?”. Kesedihan kedua adalah tutupnya sejumlah distributor (toko musik) lokal, salah satunya adalah Tropik–toko musik di Bandung, sehari sebelum Tropik (Tropik tutup sekitar Desember 2012) Marin mengunjungi sang pemilik dan mengungkapkan kesedihannya atas penutupan Tropik. Kesedihan ketiga adalah ada roster FFWD yang telah melupakan label, seperti anak yang telah melupakan orangtuanya, dulu apa-apa mereka mengandalkan label mulai dari rekaman hingga membuat sticker, sekarang band tersebut tidak melibatkan label dalam hal besar maupun hal yang kecil.

Satria berbagi dua kesedihan, yang pertama adalah setelah band meliris album fisik, ada yang menanyakan via twitter, “ada link downloadnya?”. Dia sedih atas rendahnya penghargaan atas kepemilikan rilisan fisik di Indonesia. Kedua yaitu gagalnya Sore berangkat ke SXSW–sebuah festival musik ternama di Texas USA–karena terbentur masalah biaya perjalanan. Sore mendaftarkan diri untuk bisa bermain di SXSW dan mereka lolos, namun mereka harus menanggung sendiri biaya perjalanan. Mereka berusaha mencari dukungan (dana) dari pemerintah karena ini adalah sebuah misi kebudayaan, Sore akan membawa nama Indonesia ke sebuah festival musik yang sudah mendapat pengakuan hebat. Namun pemerintah menolak mendukung mereka, Sore pun batal manggung di SXSW. Saya tidak heran pemerintah menolak, mereka lebih suka mendukung pertunjukkan tradisi seperti yang terjadi di Taman Budaya Jawa Timur.

Menutup diskusi dengan kesedihan adalah janggal, yah ini kelemahan saya sebagai moderator. Saya mempersilahkan kawan-kawan yang sudah menunjuk tangan bertanya untuk ngobrol langsung dengan Satria dan Marin setelah diskusi ini ditutup. Terimakasih untuk Satria Ramadhan dan Ahmad Marin yang telah berbagi pengetahuan, pengalaman, semangat, dan kesedihan kepada kami yang masih belajar untuk membangun skena musik di Surabaya. Terimakasih juga kepada Praoto Zine yang menjadi offcial media partner untuk Sunday Talk.

Baca reportase Sunday Talk oleh Praoto Zine:
http://praotozine.wordpress.com/2013/04/03/sunday-talk-diskusi-musik-singkat-namun-padat/